Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Pengelolaan Pariwisata Berbasiskan Kolaborasi di Kabupaten Kulon Progo

Admin Web OPD
Halaman Statis
21 Februari 2026 18:53:35

Image Berita


Pengelolaan Pariwisata Berbasis Kolaborasi di Kabupaten Kulon Progo

oleh: Taufiq Amrullah, S.T., M.M.

 

Sektor pariwisata di Kabupaten Kulon Progo telah lama menjadi tulang punggung bagi perekonomian daerah. Tidak hanya sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), sektor ini juga membuka peluang bagi pemberdayaan masyarakat setempat. Melalui sistem pengelolaan berbasis kolaborasi antara Pemerintah Daerah dan desa wisata, Kabupaten Kulon Progo terus berupaya mengoptimalkan potensi alamnya untuk menciptakan pengalaman wisata yang kaya dan berkelanjutan. Namun, sektor ini juga menghadapi tantangan yang tidak bisa dianggap remeh, terutama pada dua tahun terakhir yang tercatat mengalami penurunan dalam jumlah kunjungan dan pendapatan.

Kerjasama yang Kian Kuat

Salah satu aspek utama dalam pengelolaan objek wisata di Kabupaten Kulon Progo adalah pendekatan kolaboratif. Kerjasama antara Pemerintah Daerah dan desa wisata telah terbukti menjadi model yang efektif, di mana masyarakat setempat, melalui kelompok desa wisata, terlibat langsung dalam pengelolaan dan pemeliharaan destinasi wisata. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas pengelolaan tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi lokal melalui skema bagi hasil yang adil.

Misalnya, dalam pembagian hasil tiket masuk, Pemerintah Daerah dan desa wisata bekerja sama untuk memastikan bahwa proporsi bagi hasil dibagi sesuai dengan peran masing-masing pihak. Desa wisata seperti Glagah, Jangkaran, Banaran, dan Sermo, yang memiliki destinasi unggulan, mendapatkan bagian yang signifikan, sementara sisanya diperuntukkan sebagai PAD Kabupaten Kulon Progo. Hal ini memberikan insentif bagi desa-desa wisata untuk menjaga kualitas dan daya tarik objek wisata mereka, sehingga menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Menghadapi Tantangan dan Potensi

Meskipun demikian, Kabupaten Kulon Progo menghadapi penurunan yang cukup signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan pada 2025. Total kunjungan wisatawan pada tahun tersebut tercatat 703.803 orang, mengalami penurunan sebesar 3,99% dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 733.032 orang. Begitu juga dengan total pendapatan retribusi yang turun 4,98%, dari Rp7.325.849.000 di tahun 2024 menjadi Rp6.961.380.000 pada 2025. Penurunan ini, meskipun relatif moderat, mengindikasikan bahwa ada tantangan yang harus dihadapi dalam mempertahankan daya tarik objek wisata.

Pantai Glagah tetap menjadi destinasi dengan kontribusi terbesar baik dalam jumlah kunjungan maupun pendapatan. Pada tahun 2024, Pantai Glagah tercatat menerima 567.036 wisatawan dengan total pendapatan mencapai Rp5.659.874.000. Meskipun ada penurunan jumlah pengunjung pada 2025 sebesar 5,50%, Pantai Glagah masih mampu menyumbang pendapatan terbesar, yakni Rp5.443.170.000. Namun, penurunan ini perlu menjadi perhatian, karena menunjukkan adanya perubahan dalam preferensi wisatawan.

Destinasi lain, seperti Pantai Congot dan Waduk Sermo, juga mengalami penurunan kunjungan yang cukup signifikan. Pantai Congot, yang pada 2024 menerima 113.714 wisatawan, turun menjadi 100.090 pada 2025. Penurunan hampir 12% ini perlu segera diatasi dengan meningkatkan promosi dan fasilitas yang ada di kawasan tersebut. Waduk Sermo yang terkenal dengan keindahan alamnya juga menunjukkan tren yang sama, dengan penurunan pengunjung sebanyak 17,27% pada 2025.

Namun, di tengah penurunan ini, ada titik terang yang menunjukkan bahwa sektor pariwisata Kabupaten Kulon Progo masih memiliki potensi besar untuk berkembang. Kawasan Jatimulyo, yang semula hanya menerima 1.167 wisatawan pada 2024, menunjukkan peningkatan luar biasa pada 2025 dengan 22.800 kunjungan, sebuah kenaikan yang mencolok sebesar 1.853%. Pendapatan dari kawasan ini juga meningkat pesat dari Rp16.897.000 menjadi Rp74.100.000, menjadikannya sebagai salah satu destinasi dengan pertumbuhan tercepat. Pengembangan ekowisata dan desa wisata berbasis alam di kawasan ini memiliki potensi untuk terus berkembang dan menarik lebih banyak pengunjung ke masa depan.

Begitu juga dengan kawasan Menoreh dan Nglinggo yang meskipun belum optimal dalam kontribusi retribusi, mulai menunjukkan perkembangan yang positif. Kenaikan jumlah pengunjung di kawasan Menoreh yang meningkat lebih dari 300% dari 461 pengunjung pada 2024 menjadi 2.000 orang pada 2025 menunjukkan adanya minat yang tinggi terhadap wisata berbasis alam di kawasan tersebut. Hal serupa terjadi pada Nglinggo yang mulai berkontribusi pada 2025, dengan pendapatan mencapai Rp2.358.000 meskipun jumlah pengunjungnya relatif kecil.

Pengelolaan yang Berkelanjutan: Kolaborasi dan Inovasi

Pengelolaan yang berkelanjutan menjadi kunci untuk menjaga sektor pariwisata tetap tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Dalam hal ini, sistem pengelolaan yang berbasis kolaborasi terbukti efektif, namun tidak dapat berhenti hanya pada model yang ada. Dibutuhkan langkah-langkah konkret untuk mendorong transparansi dan efisiensi dalam sistem yang telah dibangun. Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah digitalisasi sistem tiket dan parkir, yang dapat membantu mempermudah pengunjung dan pengelola dalam proses transaksi dan pengawasan, sekaligus memastikan transparansi dalam penerimaan retribusi.

Selain itu, optimalisasi promosi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik destinasi wisata, terutama untuk destinasi non-pantai yang masih belum banyak dikenal. Destinasi seperti Goa Kiskendo dan Pantai Trisik, yang mengalami penurunan signifikan, membutuhkan perhatian khusus dalam hal promosi, pengembangan paket wisata yang menarik, serta integrasi dengan desa wisata setempat.

Pengembangan atraksi wisata berbasis desa juga menjadi prioritas dalam rencana ke depan. Diversifikasi atraksi wisata akan mengurangi ketergantungan pada destinasi pantai yang selama ini mendominasi kunjungan, dan memperkenalkan wisatawan pada berbagai pengalaman baru yang lebih beragam. Pemberdayaan masyarakat melalui skema bagi hasil yang lebih baik dapat memastikan bahwa manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

 

Menggandeng Potensi Lokal untuk Pertumbuhan yang Lebih Baik

Salah satu kunci untuk keberhasilan pengelolaan pariwisata adalah penguatan kerjasama antara Pemerintah Daerah, masyarakat, dan sektor swasta. Kolaborasi antara berbagai pihak ini tidak hanya memastikan pengelolaan yang lebih efisien, tetapi juga membuka peluang untuk menciptakan inovasi dalam hal pemasaran, pengembangan produk wisata, dan pelayanan kepada wisatawan. Dengan langkah-langkah yang tepat, pengelolaan pariwisata di Kabupaten Kulon Progo bisa semakin solid dan membawa dampak yang lebih besar terhadap perekonomian lokal.

Menghadapi tantangan dan perubahan yang terus berkembang, Kabupaten Kulon Progo harus berani berinovasi dan merespon dengan cepat kebutuhan dan keinginan pasar wisata. Membangun sistem pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan adaptif akan menjadi fondasi bagi perkembangan sektor ini dalam menghadapi masa depan yang penuh potensi. Dengan kerja keras bersama, Kulon Progo bisa terus memikat wisatawan, menggerakkan perekonomian daerah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata.

 

Source: BKAD

WhatsApp Chat