Catatan Harian – 32, Narasumber gratis
|
K |
epepet dan menjadi kreatif adalah dua kata yang enak untuk disandingkan. Harus menyelesaikan masalah aset yang jadi kendala WTP , harus pula diikuti cara paling jitu untuk mengatasi masalah tersebut.
Kuundang narasumber gratis dari PSEKP UGM – sesama alumni Universitas Brawijaya Malang – (kera ngalam ker). Kuundang pula Kadinas, Sekdinas, Kabag Keuangan, Kepala Bidang - Kepala Bidang di lingkungan DPPKA dan seksi - seksinya, Irda, dan Pengurus Barang Dinas Pendidikan yang diundang khusus.
Kesimpulannya adalah : Wajar Tanpa Pengecualian adalah Hak bagi seluruh pemerintah daerah yang menjalankan fungsi kepemerintahannya. Wajar Tanpa Pengecualian dapat diraih dengan sebuah upaya melaporkan setiap akun dalam laporan keuangan daerah dengan apa adanya. Bukan ada apanya. WTP harus diupayakan dengan sepenuh hati dengan mengacu pada SAP dan melaksanakan SPIP dengan baik.
Begitu sederhana, tapi tidak sesederhana pada saat implementasi...............
Perlu dicatat: Miskin harus kreatif (kereaktif, bahasa Jawa kere : miskin)
Catatan Harian – 33, Pengurus Barang Tidak Berdosa
|
S |
eorang pengurus barang disalah satu dinas hari ini menemuiku dengan wajah yang memelas. Dia bercerita bahwa dia telah dituduh atasannya menghilangkan catatan barang senilai 1,4 M. Dia bersumpah bahwa dia tidak pernah menghapus data dari buku inventaris. Selama ini dia hanya menambah catatan pada buku inventaris apabila ada pengadaan baru. Dan mengurangi catatan apabila ada SK Penghapusan.
Setelah kuamati dan kucermati buku inventaris dan KIB yang dibuat memang ada perbedaan dengan laporan mutasinya. Segera kuminta stafku menghitung jumlah dari KIB dan Buku Inventaris yang dibuat. Ternyata ada jumlahnya memang berbeda dengan jumlah yang tercantum dalam laporan mutasi.
Selanjutnya kuminta penjelasan padanya dan kudapat penjelasan sebagai berikut: “Pak, saya jadi pengurus barang sudah tiga tahun yang lalu, data ini ya saya terima dari pengurus barang yang lama. Saya ndak pernah menghapus catatan dalam buku inventaris, kecuali yang sudah ada SK Bupati-nya. Benar pak saya ndak pernah menghapus......... ,” ungkapnya dengan terbata – bata. Kutenangkan ibu karena dengan tiba – tiba dia langsung ingin diganti saja jadi pengurus barang. “Saya kapok pak, tanggung jawabnya besar, selalu disalahkan terus kalau ada pemeriksaan, atasan tidak mau tahu kesulitan saya sebagai orang bawahan”, lanjutnya agak emosi.
Catat : Susah jadi pengurus barang – tanggung jawab besar – kompensasi tidak memadai – atasan tidak pernak melirik.
Catatan Harian – 34, Koordinasi dengan Pak Sekda untuk menerapkan aplikasi Pak Sudiantoro
|
P |
emilihan sebuah alat atau sebuah aplikasi yang akan digunakan dalam penataan aset daerah akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan yang ada atau yang akan dibuat ke depan. Pemilihan aplikasi excell yang mungkin bagi sebagian orang sangat sederhana juga pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Kok bisa .... lha wong pekerjaan jelek aja dapat menimbulkan pendapat yang berbeda, apalagi ini saya anggap sebagai pekerjaan yang menurut saya cukup mulia.
Agar apa yang kurencanakan dapat dipahami dan direstui oleh pimpinan, hari ini kumenghadap Pak Sekda untuk berdiskusi dengan beliau agar ada satu bahasa. Satu bahasa ini sangat penting agar apa yang akan kujalankan dalam pembuatan database aset dapat berjalan lancar karena sudah mendapat restu dari pucuk pengambil kebijakan.
Sebelum keluar ruangan kusampaikan pada beliau bahwa beliaulah yang mempercayai saya tentang konsep KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) disaat semua pejabat meragukannya, sekarang beliau juga percaya bahwa aplikasi yang akan saya gunakan dapat implementatif.
Keyword : Oke Pak Taufiq Laksanakan, saya di belakang Anda.